Parkiran Sepi Pengunjung, Jukir di Jalan AY Patty Meringis

Baca Juga

AMBON, KAMPIUN.CO.ID – Rintik hujan belum juga menunjukan tanda-tanda reda. Awan pekat terlihat masih menyelimuti kolom langit kota Ambon siang ini. Mato yang sejak tadi berdiri diatas trotoar terlihat mengutak atik sebuah alat elektronik yang diketahui sebagai alat pengukur waktu.

Wajahnya lesu siang itu. Ia mengambil lembaran rupiah dari saku celana sembari menghisap dalam-dalam lintingan rokok di jari tangannya.

” Hari ini uang parkir menurun drastis, parkiran sepi, ” ucapnya sembari menghela nafas panjang saat dihampiri Kampiun.co.id. Kamis (27/05/2021).

Pria asal Jezirah Leihitu Maluku Tengah ini sehari-hari menapaki hidup sebagai juru parkir alias jukir di Jalan Aypatti kota Ambon.

Ia mengaku akhir-akhir ini penghasilannya dari mengais rupiah sebagai jukir di ibu kota bertajuk Manise itu mengalami penurunan drastis.

” Sudah seminggu ini parkiran disini sepi. Biasanya mobil yang bergantian parkir di sini penuh setiap hari, entah kini sebabnya apa, ” tuturnya datar.

Kondisi ini dialaminya semenjak sepekan terakhir menyusul kota Ambon diguyur hujan deras disertai angin kencang.

Kondisi itu juga bertepatan pemberlakuan aturan Pemerintah Kota Ambon menaikan tarif parkir di sejumlah kawasan di kota Ambon yang salah satunya di kawasan itu.

Baca Juga :   Ditetapkan Sebagai Sekolah Pantai Indonesia, SMP Negeri 8 Ambon Bisa Jadi Agen Perubahan

Dalam kebijakannya, Pemkot Ambon menaikan tarif parkir untuk kenderaan roda empat seharga Rp 4.000 untuk sekali parkir.

Di wilayah itu kata dia, hanya dikhususkan kenderaan roda empat yang diperbolehkan parkir.

Tugasnya sebagai juru parkir dimulai pukul 7.00 WIT hingga pukul 18.00 WIT. Sebab diwilayah itu dibagi dalam dua sif, dilanjutkan dengan sif malam dimulai dari pukul 18.00 WIT sampai 02.00 dini hari WIT.

Dari aktifitasnya mengais rupiah sebagai juru parkir, dia mengaku hanya bisa membawa pulang Rp. 20 ribu dari target setoran sebanyak Rp 220 ribu perhari.

Baca Juga :   Pemkot Jemput Bola, Vaksinasi Lansia Dilakukan Door to Door

Sebelumnya ia bisa membawa pulang Rp. 50 ribu hingga Rp. 100 ribu dari target setoran perharinya. Namun, sekarang untuk mendapat angka itu dirasa sangat sulit.

Sebagai pria Ambon ia mengaku dengan kondisi itu tak sampai membuatnya mengeluh, ia lantas bersyukur meski dengan hasil yang didapatkannya nilainya sangat kecil untuk menghidupi Istri dan satu anaknya.

” Hidup ini harus dihadapi. Pantang untuk disesali apalagi ditangisi, ” ujar pria yang mengaku pernah bekerja sebagai buruh di pelabuhan nusantara Ambon ini.

Mato tidak tahu harus mengadu ke mana lagi untuk mengungkapkan kondisi yang dialaminya itu, dia hanyalah orang kecil yang tidak punya apa-apa.

Bekerja sebagi jukir dengan penghasilan yang kecil tak sebanding dengan jaminan keselamatan dirinya yang bertaruh nyawa dijalanan baik panas maupun hujan, belum lagi kerap mendapat perlakuan kasar dan bahasa yang tidak mengenakan terlontar dari para pemilik kendaraan dan pengendara.

Ia hanya menaruh harap kelak ada perubahan hidup dalam dirinya bersama keluarganya dalam menapaki hidup hari-hari mereka.(K-B)

Baca Juga :   Pemerintah dan Pakar Sosiologi Komentari Kasus Pemalsuan Rapid Tes Antigen di Ambon, Apa Kata Mereka?
Parkiran Sepi Pengunjung, Jukir di Jalan AY Patty Meringis

Berita Terkini

Pasukan Lapis Kedua Italia Tundukkan Wales di Olimpico Roma

AMBON,KAMPIUN.CO.ID-Italia kembali memetik kemenangan kala bersua Wales di matchday ketiga Euro 2020 yang berlangsung di Stadio Olimpico, Roma, Italia,...

Berita Terkait