Karonji, Tradisi Pemotongan Tumbal Kelapa Dipenghujung Ramadhan, Warisan Leluhur di Negeri Buano

Baca Juga

AMBON, KAMPIUN.CO.ID – Negeri Buano di Pulau Buano, sebelah barat Pulau Seram, Maluku. Masyarakat di negeri itu meyakini, nenek moyang mereka merupakan cikal bakal identitas mereka yang kebal dari gerusan zaman.

Salah satu warisan leluhur yang hingga kini masih terawat dan tak lekang oleh zaman adalah budaya Karonji.

Dalam bulan suci Ramadhan masyarakat dengan sebutan Hena Puan itu disibukkan dengan berbagai aktivitas. Salah satunya menggelar tradisi budaya leluhur yang selalu dilestarikan secara turun temurun.

Adalah budaya Karonji sebuah tradisi warisan leluluhur yang digelar setiap tahun dalam bulan suci ramadhan. Tepatnya pada hari ke 25 ramadhan, tradisi pemotongan Karonji ini diikuti oleh Upu Latu dan toko-toko agama seperti penghulu masjid, Guru An, Karonji Pua dan Guru Mahu.

Sebelum proses pemotongan Karonji ini mereka masing-masing menyiapkan berbagai kelengkapan seperti perahu, umbul-umbul, kemudian rebana yang di dalamnya juga ikut para pemuda yang turut serta dalam memeriahkan Karonji ini. Para pemuda yang ikut ini adalah orang-orang yang ada dalam keluarga dan turunan rumah mata parentah yang melakukan Karonji.

Waktu menjelang subuh merekapun bersiap-siap untuk berangkat dengan penuh semangat dan kompak menuju ke lokasi yang sudah ditentukan untuk melakukan pemotongan tumbal kelapa dan berbagai jenis kayu buah yang digunakan sebagai tiang penyangga dalam dekorasi karonji.

Proses dekorasipun dilakukan oleh masing – masing pemilik perahu Karonji. Perahu yang tadinya terlihat kosong kini mulai dipasang kayu sebagai tiang penyangga yang kemudian dilanjutkan dengan pemasangan umbul-umbul dan tumbal kelapa sebagai bahan utama dalam dekorasi.

Setelah semuanya sudah siap merekapun bergegas untuk kembali ke Hena pada pagi. Dalam proses kembali ke Hena perahu perahu Karonji yang lain ini tidak boleh mendahului perahu Karonji dari Upu Latu. Hal ini sebagai tanda untuk menghargai pemimpin negeri.

Kemudian masyarakat yang ingin menyaksikan perahu karonjipun tak sabar untuk melihat atraksi oleh masing-masing perahu karonji ini.

Waktunya telah tiba, terlihat sudah perahu-perahu Karonji itu mulai berdatangan dan diiringi dengan hadrat oleh para pemuda di masing-masing perahu Karonji.

Kemeriahan yang diatraksikan melalui perahu perahu karonji ini membuat masyarakat memenuhi pesisir pantai untuk menyaksikan tradisi yang langkah ini.

Perahu-perahu itu mengelilingi pesisir mengintari Hena sebanyak 3 kali dan setelah itu mereka akan berlabuh pada tempat berlabuh atau dalam bahasa lokal Negeri Buano adalah Hahusa masing-masing.

Budaya Karonji ini merupakan tradisi leluhur negeri itu yang digelar tiap tahun pada bulan ramadhan tepatnya memasuki penghujung puasa diantara 20 hingga 27 hari puasa. (K-B)

Berita Terkini

Guru SD di Buru Selatan Perkosa Cewek ABG, Setelah Pergoki Korban Lagi Begituan Sama Pacarnya

AMBON,KAMPIUN.CO.ID-LOS, seorang oknum guru sekolah dasar (SD) di Kecamatan Waesama, Kabupaten Buru Selatan, Maluku dilaporkan ke polisi karena diduga...

Berita Terkait