Jaksa Tuntut 4 Terdakwa yang Jual Senjata ke KKB 8 hingga 12 Tahun Penjara

Baca Juga

AMBON,KAMPIUN.CO.ID- Empat terdakwa yang terlibat dalam kasus penjualan senjata api dan amnusi ke kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua dituntut hukuman penjara oleh Jaksa Penutnut Umum (JPU) Kejari Ambon.

Empat terdakwa yang dituntut penjara oleh  jaksa itu yakni  terdakwa Ridwan Mohsen Tahalua (44), Handri Morsalim (43) dan  Andi Tanan (50) masing-masing dituntut delapan  tahun penjara dan terdakwa Sahrul Nurdin (39) dituntut 12 tahun penjara.

Sahrul Nurdin sendiri dituntut paling berat dari ketiga rekannya karena dia pernah terlibat dalam kasus yang sama dan pernah dihukum sebelumnya.

Sidang dengan agenda pembacaan tuntutan oleh jaksa penuntut umum ini dipimpin oleh ketua majelis hakim Pasti Tarigan. Sidang berlangsung di Pengadilan Negeri Ambon pada Rabu (19/5/2021).

“Meminta kepada majelis hakim agar memvonis para terdakwa dengan pidana penjara yang telah disebutkan secara lengkap dalam amar tuntutan,” sebut  JPU, Eko Nugroho saat membacakan amar tuntutannya, Rabu.

Baca Juga :   6 Tersangka Penjual Amunisi dan Senjata Api ke KKB Segera Diserahkan ke Jaksa

Dalam sidang yang berlangsung secara daring itu para terdakwa tidak dihadirkan dalam persidangan. Mereka diwakili oleh kuasa hukumnya, Thomas Wattimury cs.

Dalam sidang tu, jaksa menilai para terdakwa  terbukti bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama yakni menerima, menyerahkan, membawa, menguasai, menyimpan, menyembunyikan, mempergunakan  senjata api dan amunisi tanpa hak sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Pasal 338  jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Adapun hal yang memberatkan para terdakwa karena perbuatan mereka dinilai telah meresahkan masyarakat. Perbuatan para terdakwa dengan menjual senjata dan amunisi ke Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) juga dinilai telah merongrong  Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga :   Terkait Penjualan Senpi ke Papua, Danlanud: Saya Tak Melindungi Kasus Anggota

KKB sendiri telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai kelompok teroris usai insiden penembakan yang menyebabkan gugurnya Kepala BIN Daerah Papua, Brigjen TNI I Gusti Putu Danny di Kabupaten Puncak, Papua beberapa waktu lalu.

Selain itu salah satu terdakwa, Sahrul Nurdin ternyata merupakan residivis yang sebelumnya juga pernah terlibat dan dihukum dalam kasus yang sama.

“Sedangkan hal yang meringankan para terdakwa mengaku menyesal dan mengakui kesalahan mereka,” ujarnya.

Dalam kasus tersebut dua terdakwa lain yakni San Herman Palijama alias Sandro (34), dan Muhammad Romi Arwanpitu alias Romi (38) juga ikut dituntut selama 10 tahun penjara. Herman Palijama dan Muhamad Romi sendiri diketahui merupakan dua anggota Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease.

Kasus penjualan senjata api ke KKB di Papua terbongkar setelah warga berinisial J ditangkap oleh aparat Polres Teluk Bentuni, Papua Barat, Rabu (10/2/2021).

Baca Juga :   Jual Senjata ke Teroris di Papua, 2 Oknum Polisi Dihukum 7 Tahun Penjara

Atas perintah Kapolda Maluku, Irjen Pol Refdi Andri, Polda Maluku langsung berkoordinasi dengan Polres Teluk Bentuni untuk menyelidiki kasus itu.

Adapun lokasi transaksi pembelian tiga pucuk senjata api itu terjadi di Kota Ambon. J datang langsung ke Kota Ambon untuk membeli tiga pucuk senjata api tersebut dari kedua terdakwa.

Setelah penyeludikan dilakukan, polisi kemudian menangkap keenam terdakwa lainnya dua dinataranya merupakan oknum anggota Polri yang bertugas di Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease yakni San Herman Palijama alias Sandro dan Muhammad Romi Arwanpitu alias Romi.

Selain dua anggota Polri dan empat warga lainnya, seorang oknum Anggota TNI dari kesatuan 733 Kabaressy juga ikut terlibat dalam kasus tersebut dan saat ini masih diproses di Danpom XVI Pattimura. (KPL)

Berita Terkini

Guru SD di Buru Selatan Perkosa Cewek ABG, Setelah Pergoki Korban Lagi Begituan Sama Pacarnya

AMBON,KAMPIUN.CO.ID-LOS, seorang oknum guru sekolah dasar (SD) di Kecamatan Waesama, Kabupaten Buru Selatan, Maluku dilaporkan ke polisi karena diduga...

Berita Terkait