Bakar Damar di Makam hingga Bawa Makanan untuk Anak Yatim Jadi Tradisi Warga Muslim Maluku Sambut Malam Lailatul Qadar

Baca Juga

AMBON,KAMPIUN.CO.ID-Warga muslim di Maluku memiliki tradisi yang unik di malam 27 Ramadhan atau yang biasa disebut dengan malam 27 likur.

Pada malam tersebut, warga di desa-desa islam akan menerangi setiap makam dan rumah-rumah mereka dengan lilin, damar dan juga obor.

Bagi warga muslim di Maluku menerangi makam dengan damar atau obor saat malam 27 likur merupakjan sebuah keharusan karena hal tersebut  telah menjadi tradisi turun temurun bagi sebagian besar warga di Maluku.

Tak jarang banyak warga yang memilih mudik lebih awal ke kampung halamannya untuk mengikuti kegiatan yang telah menjadi tradisi turun temurun itu. Sebab banyak warga meyakini malam 27 likur atau malam 27 Ramadhan merupakan malam Lailatul Qadar yang dinantikan semua umat Islam yang menjalankan puasa.

Di malam tersebut, seluruh muslim di Maluku yang berada di desa mendatangi pemakaman dan menyalakan damar atau obor.

Lailatul Qadar hanya dijumpai setahun sekali. Setiap muslim pasti menginginkan malam penuh kemuliaan itu mengingat keutamaannya yang sangat agung.

Baca Juga :   Cerita Anak Yatim Dari Pulau Manipa Lulus Jadi Taruna Akmil dan Ungkapan Rasa Syukur Sang Ibu

Lailatul Qadar juga disebut dengan nama Lailatul Syaraf yang artinya malam kemuliaan atau ‘Lailatul Tajalli’ yang bermakna malam Allah melimpahkan karunia dan hidayah-Nya kepada orang yang berpuasa dan menghidupkan ibadah di bulan Ramadhan.

Dalam islam, malam Lailatul Qadar diyakini memiliki banyak keutamaan bahkan malam ini disebut sebagai malam terbaik dari 1.000 bulan.

Nah padapada malam 27 Ramadhan kali ini yang bertepatan dengan tanggal 8 Mei 2021, warga muslim di Maluku juga beramai-ramai mendatangi makam di perkampungannya . Mereka mendatangi tempat pemakaman umum sambil menerangi setiap makam keluarganya dengan membakar lilin dan juga damar.

Sebagain warga lain ikut menerangi makam keluarganya dengan obor. Mereka lalu berdoa di makam sebelum kembali ke rumahnya masing-masing.

Baca Juga :   Belum Puas, Bupati SBB Kembali Larang Wartawan Meliput, Jurnalis yang Kritis Masuk Daftar Hitam, Ini Pemimpin Macam Apa?

“Ini baru saja selsai dari makam keluarga, kita menerangi makam dengan membakar damar dan lilin,” kata Rafik Riring warga Desa Latu, Kecamatan Amalatu kepada Kampiun.co.id, Sabtu malam.

Ia mengaku banyak warga yang mendatangi lokasi makam untuk melakukan hal yang sama sehingga suasana sangat ramai.

Selain warga di Desa Latu, sebagai besar warga di desa-desa islam di wilayah itu juga ikut mendatangi makam untuk menerangi makam keluarganya. Mereka mulai mendatangi lokasi makam sejak selepas magrib untuk menerangi makam keluarga mereka.

“Kita di sini juga membakar lilin dan damar di makam dan setiap rumah, karena itu sudah menjadi tradisi kami di sini,” kata Musalim Tubaka warga Desa Hualoy.

Bagi warga menerangi makam di malam 27 likur memiliki makna religiusitas yang tinggi. Mereka meyakini di malam 27 likur atau yang mereka percaya sebagai malam Lailatul Qadar arwah semua mahluk yang telah meninggal dibangkitkan untuk menyaksikan kebesaran Allah.

Baca Juga :   Datang di Ambon, Presiden Jokowi Disambut Demo Mahasiswa

“Kepercayaan kita begitu, jasad manusia boleh mati tapi arwahnya tidak, dan di malam ini Allah dengan segala kebesarannya memperlihaktkan kekuasaannya kepada semua mahluknya,” katanya.

Tak hanya di kecamatan Amalatu, warga muslim di sejumlah desa di kecamatan Huamual dan desa-desa di Kabupaten Maluku Tengah juga melakukan hal yang sama.

“Tadi di sini juga lakukan itu (bakar damr), ramai sekali di sini,” kata Bakri warga Masohi.

Berbeda dengan desa-desa muslim lainnya, warga di Desa Morela merayakan malam 27 Ramadhan dengan membawa buah-buahan dan makanan ke masjid untuk dibagikan kepada anak yatim dan kaum duafa.

Warga desa juga memperagakan tarian hadrah diringi lagu puji-pujian yang mengikuti alunan rebana. Kegiatan itu mereka lakukan tepat di halaman masjid desa tersebut.

Baca Juga :   Lagi Asyik Main Judi, Kadispora dan Anggota Polisi Digrebek, Kini Nginap di Polres MBD

“Kalau kita di sini tradisinya tidak membakar damar di kuburan, tapi membawa berbagai jenis makanan dan buah-buahan ke masjid. Kita di sini menyebutnya tradisi langansa,” kata Rusda Leikawa, salah satu warga Morela kepada Kampiun.co.id via telepon seluler.

Makanan dan buah-buahan itu dibawa sekelompok wanita ke masjid selepas magrib. Selain dihadiri kaum lelaki, para ibu-ibu dan anak-anak juga ikut memadati lokasi acara. Adapun  makanan yang dibawa warga kemudian dibagikan kepada anak yatim, janda, dan kaum duafa.

“Kali ini juga ada hadrah kalau tahun lalu tidak ada,” ujarnya.

Di beberapa desa, selepas warga menerangi makam dengan damar, anak-anak kemudian menggelar pawai obor keliling kampung. (KQQ)

Berita Terkini

Guru SD di Buru Selatan Perkosa Cewek ABG, Setelah Pergoki Korban Lagi Begituan Sama Pacarnya

AMBON,KAMPIUN.CO.ID-LOS, seorang oknum guru sekolah dasar (SD) di Kecamatan Waesama, Kabupaten Buru Selatan, Maluku dilaporkan ke polisi karena diduga...

Berita Terkait