Kisah Mosess, Tangan Kanan Alex Manuputty Ikut Berperang di Timor Leste, Tandatangan Darah Demi Dapat Senjata, Dihianati hingga Kembali ke NKRI

Baca Juga

AMBON,KAMPIUN.CO.KID-Nama Mosess Rutumakessy mungkin masih asing bagi kebanyakan warga di Maluku. Tak banyak orang yang tahu dengan tokoh yang satu ini termasuk juga sepak terjangnya dalam dunia politik.

Namun bagi sebagian orang yang bersimpati dengan organisasi Front Kedaulatan Maluku (FKM) dan Republik Maluku Selatan (RMS), Mosess adalah tokoh kunci dan simbol perlawanan terhadap Jakarta.

Mosess tercatat sebagai salah satu tokoh penting FKM-RMS sekaligus tangan kanan Presiden RMS, Alex Manuptty. Sebagai orang kepercaayaan sang presiden, siapapun yang ingin berhubungan dengan Alex wajib mendapat persetujuan Mosess terlebih dahulu.

Mosess juga menjadi salah satu tokoh sentral RMS yang ikut mendirikan sejumlah organisasi bawah tanah termasuk FKM untuk mendukung kemerdekaan RMS.

Saat masih bergabung dengan RMS, Mosess pernah terlibat dalam sejumlah misi dan tugas rahasia dalam upaya kemerdekaan RMS.

Sejumlah tugas penting yang pernah dilakukannya adalah membentuk perwakilan FKM RMS di seluruh Maluku hingga terlibat peperangan di Timor Leste hanya demi satu tujuan mendapatkan senjata bagi perjuangan RMS.

Namun siapa sangka dalam perjalanan yang panjang itu, tokoh penting RMS ini juga pernah merasakan penghianatan dan menjadi korban fitnah dari teman-temannya seperjuangan.

Kini Mosess memillih jalan berbeda dan telah kembali ke pangkuan NKRI setelah sekian lama berjuang melawan kebijakan Jakarta.

Kisah perjuangan dan serangkaian penghianatan yang dirasakannya itu pun diceritakan Mosess saat pertemuan dengan warga dan seluruh pemangku kepentingan di Seram Bagian Barat, Sabtu (24/4/2021).

Mosess mengawali ceritanya dari pembentukan FKM sebelum pecah konflik kemanusiaan di Maluku Tahun 1999 silam.

Menurut Mosess saat itu ia dan 44 orang rekannya termasuk Alex Manuputty membentuk FKM sebagai organisasi bawah tanah untuk mendukung kemerdekaan kemerdekaan RMS.

Baca Juga :   6 Bulan Bertugas di Sarang KKB, 100 Personel Brimob Maluku Akhirnya Ditarik ke Barak
Baca Juga :   Wakasihu Jadi Lokasi Pengamatan Hilal, Malam Ini Rapat Isbat Penentuan 1 Ramadhan Diputuskan

“Beta atas nama pendiri FKM beta minta maaf kepada pemerintah daerah sampai ke pusat, bapak TNI Polri beta minta maaf katong (kita) ada 45 orang yang mendirikan FKM,” kata Mosess.

Jabat Dua Menteri

Sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di jajaran elit FKM RMS, Mosess tentu punya jabatan menterang.

Benar saja, dua jabatan menteri di peganganya sekaligus, yakni menteri keuangan dan juga menteri sekretaris negara atau mensesneg. Dua jabatan itu didapatnya setelah pembentukan kabinet RMS dilakukan sebelum pecah kerushan Maluku.

“Dulu beta kepala keuangan kalau dalam pemerintahan berarti beta menteri keuangan merangkap kepala protokoler negara itu berarti dalam pemerintahan negara beta ini Mensesneg,” ujarnya.

Menurut Mosess saat pembentukan kabinet RMS ia tidak hanya dipercayakan menjabat menteri keuangan dan mensesneg namun juga diberi tugas khusus untuk membentuk perwakilan RMS di setiap wilayah di Maluku, dan itu dilakukannya dengan baik.

Tugas itu pun dapat dilakukannya sesuai target dimana setiap daerah di Maluku terdapat perwakilan RMS.

“Dulu itu Alex Manuputty duduk di kursi, Mozes yang bajalang bentuk semua perwakilan (RMS) di seluruh Maluku, saya membentuk dan Alex cuma dengar laporan dari saya, silahkan publikasikan supaya dunia tahu,” katanya.

Mosess mengisahkan perjuangannya bersama RMS saat itu harus dilalui dengan perjuangan yang sangat berat. Ia pernah berperang melawan pasukan Enrico Guiteres yang membela NKRI di Timor Leste hanya demi mendapatkans senjata untuk RMS.

Ia bahkan terlibat negosiasi dengan empat Negara untuk bantuan dana pembelian senjata untuk memuluskan perjuangan RMS.

Namun upayanya itu sia-sia belaka sebab sejumlah petinggi RMS yang juga rekan-rekannya yang ada di Jakarta justru menyelewengkan dana bantuan untuk RMS.

Baca Juga :   Anak Buah Tepergok Selingkuh dengan Dokter, Kasat Brimob: Tidak Ada yang Kebal Hukum, Kalau Salah Ditindak

“Demi kita mendapatkan kemerdekaan saya tanda tangan darah, ada empat Negara siap memberi bantuan senjata Alex siap untuk tandatangan dana itu ternyata sampai di Jakrata FKM perwakilan Jakarta sudah makan habis dana-dana itu,” ungkapnya.

Baca Juga :   Kasus Wartawan Dipukul Saat Meliput, Komnas HAM Surati Bupati SBB, Terlibat?

Penghianatan

Mirisnya Mosess kembali diperintahkan balik lagi ke Timor Leste untuk mencari senjata di sana. Sayangnya saat itu rekan-rekannya hanya memberi uang kepadanya sebesar Rp 1.500.000.

Bagi Mosess perlakuan teman-temannya itu tidak bisa diterima karena perjuangannya tidak dihargai, malah mereka justru mengambil keuntungan dan berfoya-foya. Mosess juga menganggap ia telah dihianati dalam perjuangan itu.

“Mereka cuma siapkan uang Rp 1,5 juta untuk saya balik ke Timor Leste ketika saya tidak mau tandatangan dana itu mereka sewa preman untuk membunuh saya lalu mereka buang isu ke semua bahwa saya korupsi uang FKM,” katanya.

Menurut Mosess awalnya ia merasa apa yang terjadi padanya adalah tantangan dari sebuah perjuangan, namun setelah ia mengetahui semua kebusukan yang terjadi ia mulai mneyadari bahwa perjuangan Alex Manuptty tidak murni untuk kepentingan rakyat Maluku.

Alex bahkan disebut hanya mencari keuntungan dari penderitaan masyarakat Maluku selama ini. Buktinya banyak simpatisan RMS yang masuk ke tahanan keluarganya tidak diperhatikan sama sekali oleh Alex Manuputty.

Mosess juga kesal karena Alex Manuputty yang tinggal di Amerika tidak dapat berbuat apa-apa di PBB sebagaimana janjinya kepada masyarakat Maluku.

“Dia di Amerika hanya makan roti dan keju di atas penderitaan masyarakat. 20 tahun Alex di Amerika dia buat apa? Dia tinggal di dekat PBB tapi hasil tidak ada lalu cari bantuan ke Vanuatu Negara kecil, dia hanya makan roti dan keju tapi yang lain menderita,” katanya.

Baca Juga :   Demi Lindungi Sang Ayah yang Akan Ditebas, Steven Gadaikan Nyawa Tangkis Sabetan Parang Pelaku, Kejadiannya di Soya

Ajak Simpatisan Sadar

Bagi Mosess perjuangan untuk kemerdekaan RMS saat ini hanyalah sebuah ilusi. Sebab sejauh ini tidaka da dukungan dari dunia internasional kepada RMS.

Selain itu perjuangan untuk kemerdekaan RMS butuh sumber daya dan biaya yang tidak sedikit.

“Jangan lagi bermimpi meredeka kalau tidak ada dukungan dan dana, dan saya mau katakana perjuangan RMS ini tidak di dukung oleh Negara mana pun, ” ujarnya.

Ia pun mengajak semua simpatisn RMS di Maluku agar kembali lagi ke NKRI karena banyak simpatisan RMS selama ini banyak yang tidak memahami hakikat perjuangan RMS saat ini dan banyak dari mereka yang terjebak hingga akhirnya berurusan dnegan hukum.

Baca Juga :   6 Bulan Bertugas di Sarang KKB, 100 Personel Brimob Maluku Akhirnya Ditarik ke Barak

“Saya mohon maaf kepada seluruh simpatisan mungkin banyak yang sudah terjebak dengan pembentukan FKM hingga ada yang masuk penjara, saya mau bilang jangan lagi terjebak dengan RMS,” pintanya.

Mosess berharap para simpatisan RMS agar menjelang HUT RMS 25 April 2021 tidak lagi membuat gerakan yang justru akan menciptakan distabilitas keamanan di Maluku.

Menurutnya kegiatan pengibaran bendera RMS dan apapun bentuknya hanya kegiatan yang sia-sia dan hanya akan berujung penjara, karena itu ia meminta para simpatisan untuk memikirkan keluarganya ketimbang bermimpi soal sesuatu yang tidak jelas.

“Banyak petinggi RMS yang juga sering memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntangan jadi saudara-saudaraku simpatisan jangan lagi membuat kegiatan bodoh yang hanya akan mebuat anda menderita,” ungkapnya. (KQQ)

Kisah Mosess, Tangan Kanan Alex Manuputty Ikut Berperang di Timor Leste, Tandatangan Darah Demi Dapat Senjata, Dihianati hingga Kembali ke NKRI

Berita Terkini

Ribuan Kendaraan Terjebak Macet di Jalan Jenderal Sudirman

AMBON,KAMPIUN.CO.ID-Kemacatan parah terjadi di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Kota Ambon, Rabu malam (12/5/2021).Kemacetan parah yang terjadi di malam takbiran...

Berita Terkait