Hari Bumi, YKAN Bersuara Untuk Indonesia Lestari

Baca Juga

 

AMBON,KAMPIUN.CO.IDSaatnya memberikan suara pada mereka yang tidak bisa. Yang terancam, yang membutuhkan, yang terbungkam. Saatnya bersuara untuk Bumi, yang tengah terengah menghadapi kenaikan suhu, perlahan namun pasti menimbulkan dampak pada seluruh sendi kehidupan makhluk hidup yang berdiam di dalamnya.

Menyambut Hari Bumi 2021, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengajak seluruh khalayak untuk beraksi dan bersuara bagi Indonesia, melalui tema “Bersuara #UntukIndonesiaLestari”.

YKAN menghadirkan para Nature Ambassador, yakni Vania Herlambang, Putri Indonesia Lingkungan 2018, Melissa Karim presenter dan MC, serta Andini Effendi, jurnalis.

Mereka-mereka ini berbagi cerita dan inspirasi dalam sesi talkshow daring, yang dipandu oleh Head of Communications YKAN, Sally Kailola, pada Kamis kemarin (21/4/2021).

Melalui profesinya masing-masing, tiap Nature Ambassador menjadi pelantang suara bagi YKAN untuk mengajak masyarakat luas peduli pada Bumi.

“Selama pandemi, kita takut akan COVID-19. Tapi sebenarnya, ada yang diam-diam mengintai kehidupan kita yaitu polusi udara. Persoalan polusi udara ini menciptakan dampak yang besar, menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit, dan merusak kesehatan kita,” ujar Andini Effendi mengingatkan.

Kebiasaan membakar sampah, ia memberi contoh, terkesan sepele tapi sebenarnya sangat berdampak pada kualitas udara.

Bincang seru bersama para Nature Ambassador YKAN ini dikemas dalam format kuis yang terbagi ke dalam 9 topik, yakni sustainable lifestyle, mangrove, polusi, sampah, air bersih, ekowisata, satwa, perikanan, dan iklim.

Masing-masing topik memiliki daftar pertanyaan yang harus dijawab oleh para Nature Ambassador. Ketika memilih isu sampah, Melissa Karim yang juga memiliki gerai makanan ini menuturkan, sebisa mungkin ia meminimalkan sampah makanan yang diproduksi per hari.

Dari lima bahan yang digunakan, misalnya, ia berkreasi menjadikannya 8 varian menu sehingga tidak terlalu banyak jenis bahan makanan yang tersisa.

Di tengah obrolan, Sally juga mengundang salah satu peserta Conservation Talks untuk bersuara. Di antaranya Rahma Alia, presenter yang berbagi cerita menerapkan konsep daur ulang di dalam keluarganya; Anggyta Setyorini yang terinspirasi mangrove dan dituangkannya ke dalam karya lukisan bergaya kontemporernya; dan Satya Winnie yang biasa dikenal sebagai travel blogger sekaligus memiliki kepedulian yang tinggi pada alam.

“Baru saja saya kembali dari Maluku Utara dan bertemu dengan para nelayan di sana. Ternyata mereka sekarang tidak lagi harus jauh-jauh melaut, sudah bisa mendapat banyak ikan. Para nelayan juga sudah sadar untuk tidak menggunakan bom, pukat harimau, dan hanya menggunakan kapal tradisional,” ceritanya soal perjalanannya mengeksplorasi Maluku Utara.

Hadir pula sebagai tamu spesial, Samsudin Dongeng Keliling yang telah menjelajah 14 kota di Indonesia sejak 2016. Dia berbagi inspirasi akan semangatnya mendongengkan cerita alam.

Dedikasinya dalam menyelamatkan satwa langka dan pelestarian lingkungan di Indonesia menjadi penyuluh semangat dalam setiap ayunan pedal sepeda yang dibawanya berkeliling kota.

“Manusia hanyalah bagian dari sebuah ekosistem. Ada makhluk hidup lain yang juga perlu diperhatikan. Kalau kita memotong mata rantai kehidupan, dampaknya akan ke kita juga. Pohon yang mati, misalnya, maka satwa akan lari untuk mencari sumber pangan lain, dan sumber pangan manusia juga akan terganggu,” tuturnya.

 

Dia mengatakan, semua manusia hidup di satu tempat, yaitu Bumi. Kalau manusia membiarkan tindakan merusak Bumi berlanjut, maka akan meninggalkan anak-cucu pada Bumi yang tak layak dihuni.

Dalam kesempatan ini, YKAN juga memberikan penghargaan alam kepada peserta  yang telah lama mendukung kegiatan konservasi YKAN melalui program Membership. Salah satunya adalah Tri Soekirman yang kini juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Photovoices International.

Organisasi nirlaba ini memberdayakan masyarakat setempat untuk menuturkan cerita kesehariannya melalui bidikan foto untuk mendorong kebijakan, serta beradvokasi untuk perubahan positif.

Seperti kata Vania Herlambang, adanya peringatan Hari Bumi bukan berarti kita hanya peduli pada Bumi selama sehari dalam setahun.

“Peringatan Hari Bumi ini menjadi ‘cubitan’, yang bisa menciptakan efek domino dan menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan bersama-sama untuk Bumi yang lestari,” katanya.

Sejatinya, semua orang bisa bersuara untuk alam. Dan semua orang punya  cara tersendiri untuk beraksi demi kelestarian alam. (DBA)

Hari Bumi, YKAN Bersuara Untuk Indonesia Lestari

Berita Terkini

Ribuan Kendaraan Terjebak Macet di Jalan Jenderal Sudirman

AMBON,KAMPIUN.CO.ID-Kemacatan parah terjadi di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Kota Ambon, Rabu malam (12/5/2021).Kemacetan parah yang terjadi di malam takbiran...

Berita Terkait