Fungsi Kontrol Media dan Relasi Benci tapi Rindu dengan Khalayaknya

Baca Juga

Oleh: Dr. Hendra Alfani (Pengamat Media dan Akademisi FISIP Universitas Baturaja Sumatera Selatan)

KAMPIUN.CO.ID –  Dalam politik, ada pengandaian (semacam analogi) yang menarik yang diawali dengan pertanyaan; Mengapa preman, (mantan) koruptor, politisi curang dan sandangan negatif lainnya atau bahkan karbitan bisa terpilih/dipilih dan menang dalam suatu kontestasi politik; seperti pileg, pilpres, atau pilkada?

Jawabannya ternyata sederhana. Keterpilihan ataupun kemenangan mereka merupakan cerminan dari perilaku atau budaya masyarakat yang memilihnya. Begitu juga, (menurut saya) dalam dunia aktivitas media dan jurnalisme dengan segala aktivitasnya. Apalagi ketika “memperdebatkan” wacana kontrol atau fungsi pengawasan media sebagai public sphere seperti yang pernah dikemukakan Habermas.

Pada batasan itu, saya berpikir, bahwa fungsi dan kontrol pengawasan yang dilakukan media, mesti dibincang secara kritis-kontruktif. Apa yang seharusnya dilakukan media dalam konteks itu. Kenyataan praktisnya, dulu ketika teori peluru masih “berjaya”, media itu adalah panasea, bisa mengobati dan menyembuhkan penyakit apa saja. Sampai ditemukan “saringan sederhana” terhadap efek media dalam arti luas, yaitu gate keeper atau opinion leader. Adanya konteks “love-hate relation” (benci tapi rindu) antara media dan khalayaknya, menurut saya, mirip dengan wacana atau pertanyaan bagaimana memurnikan idealisme jurnalis yang adi luhung lalu menautkannya dengan industri media yang serba kapitalistik?

Pada fenomena “clickbyte orientation” di media online misalnya, berita “diecer” supaya dapat banyak click. Artinya apa, tidak boleh ada “penghakiman” bahwa ada media yang tidak berkualitas, tidak berarti lalu mengeneralisir semua media itu buruk. Masih ada media yang menjaga idealismenya sebagai watchdog. Soal perspektif bahkan fakta adanya dikotomi antara media partisan dan ada media yang menjaga independensinya, mungkin masih bisa ditemukan di sudut dunia manapun.

Sekali lagi, masyarakat selalu punya “love-hate relation” dengan media, benci tapi rindu. Masyarakat menganggap media sebagai panasea yang bisa mengobati dan menyembuhkan berbagai penyakit. Padahal kata McLuhan “media is the mirror of society” media itu cerminan kondisi masyarakat.

Bagaimana pendapat kita soal ini, sepertinya mesti dikemukakan dengan cara pandang melihat kedua sisi atau lebih. Adanya penilaian, bahwa media memiliki multi-relations dengan berbagai pihak yang saling terhubung, adalah keniscayaan bahwa media sedang “mempraktikan” relasi kuasa dalam perspektif ekonomi politik media seperti yang tandaskan Moscow. Bahwa media pasti ingin aman dari tekanan politik guna menjaga stabilitas kepentingan ekonominya. Artinya, hampir pasti ketika mengkonstruksi sebuah realitas, media dan praktik “jurnalisme-tik-nya” akan “mengutak-atik” realitas itu sesuai sudut pandang yang dibangunnya, sampai pada konteks yang diiginkan.

Lalu, ketika ada perdebatan soal lunturnya bahkan ketiadaan peran watchdog oleh media, saya kira tidak juga bisa diamini dengan serta-merta. Soal pengawasan atau kontrol sosial, walau belakangan sering dipraktikkan di wilayah jurnalisme investigasi (bawah tanah), hal ini sudah ditegaskan dalam pasal 33 UU Nomor 40/1999 Tentang Pokok Pers. Di mana konteks kontrol sosial itu (secara ideal) mengandung makna demokratis; partisipasi, pertanggungjawaban, dukungan sosial dan pengawasan terhadap tindakan menyimpang/pelanggaran aturan hukum oleh siapa saja (penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, pungli, tindak kriminal dan lain sebagainya).

Jikalau kemudian ada yang mengatakan bahwa peran atau fungsi watchdog itu hanya cocok untuk jurnalisme investigasi, atau watchdog itu bukan mengabarkan tapi “membongkar”. Lalu pertanyaannya: “Apakah produk jurnalisme investigas itu hanya dibongkar? Saya kira, setelah dibongkar, toh fakta “bongkaran” itu mesti dikabarkan juga kan? Walau dengan cara yang tidak terbuka atau menggunkan media non-mainstream.

Demikian halnya dengan singgungan antara idealisme jurnalis dan bisnis industri media. Saya melihatnya dalam spektrum yang sederhana, kita harus jujur mengakui, bahwa idealisme jurnalis dan bisnis industri media, adalah dua hal yang seringkali berseberangan satu sama lain. Karena adanya berbagai kepentingan di berbagai sisinya. Namun, ibarat pertemuan antara kutub positif dan negatif yang menghasilkan arus listrik. Seperti itu juga soal idealisme jurnalis dan bisnis media, keduanya tak bisa berjalan sendiri, tetapi sebaliknya tak juga tujuannya selalu sama, walau keduanya (harus selalu) berjalan berdua. Tinggal kadar dan takaran kepentingannya seperti apa dan hendak di bawa kemana.

Saya hendak menutup tulisan ini, dengan menukil bagian dari artikel yang pernah saya tulis sebelumnya, tentang tantangan idealisme media di era kapitalisme global. Bahwa (mungkin) jalan terbaik bagi dua kepentingan (idealisme dan kapitalisme) yang berimbas pada fungsi pengawasan media, dengan menyampaikan ulang pernyataan yang pernah diungkapkan oleh Ishadi S.K. (2010), bahwa idealisme dan kapitalisme yang melingkupi aktivitas dan kebijakan institusi media bisa mencapai keseimbangan atau stable equilibrium melalui tiga langkah yaitu: pertama, mekanisme kontrol di dalam media (kode etik); kedua, mekanisme kontrol di luar media (law and regulation); dan ketiga, tekanan dari masyarakat (opini publik).

Di atas itu semua, lanjut Ishadi, tingkat profesionalisme setiap jajaran di media sangat membantu tercapainya stable equilibrium tersebut. Semakin profesional media itu dikelola, semakin tinggi kualitas media yang bersangkutan sehingga semakin dekat posisinya pada stable equilibrium. Ada tarik menarik terus antara kepentingan idealism/responsibility dengan kepentingan bisnis/rights untuk berusaha. Tarik menarik ini akan mengalami stable equilibrium lewat pengendalian regulasi yang ketat, code of ethic yang dipatuhi dan public opinion yang terjaga. Di sisi lain secara internal, tingkat profesionalisme akan menjaga keseimbangan itu secara otomatis.

Artinya, begitu dinamisnya berbagai konteks kepentingan yang terjadi dalam suatu aktivitas jurnalisme yang memiliki “sarang” bernama media (dengan berbagai perangkat institusinya). Seperti kita manusia, ketika musim hujan curahnya meninggi, kita lalu “merindukan” kapan kemarau datang. Pun sebaliknya, ketika musim kemarau memanjang dengan teriknya, kita menjadi makhluk yang paling tidak sabar menanti musim hujan tiba. Sepertinya, masyarakat selalu punya “love-hate relation” dengan media, benci tapi rindu. Tabik. (*)

Editor : Muhammad Tanreha

Sumber, Kempalan.com

Fungsi Kontrol Media dan Relasi Benci tapi Rindu dengan Khalayaknya

Berita Terkini

Pertamina Resmikan SPBU Kompak BBM Satu Harga di Kampung Baad Merauke

AMBON,KAMPIUN.CO.ID-Sebagai upaya untuk memberikan kemudahan akses masyarakat Kampung lokal Papua dalam mendapatkan energi yang berkualitas, PT Pertamina (Persero) dan...

Berita Terkait