Berpulangnya Intelektual “Tuang Hati Jantong”

Baca Juga

Oleh: Ardiman Kelihu

KAMPIUN.CO.ID-Dalam banyak rujukan, Pak Nour Tawainella adalah literatur hidup seputar sejarah dan kebudayaan Maluku. Referensi bagi banyak peneliti, penulis dan sejumlah besar intelektual di Maluku maupun di luar.

Pikiran-pikiran yang tajam, reflektif, dan berdiri di atas tanah ke-Maluku-an lalu dibangun di atas rasionalitas teoritik yang kuat namun teralami sehari-hari , adalah karakter pengetahuan beliau tentang dunia Maluku.

Misalnya, saat beliau menceritakan persaudaraan muslim-nasrani yang sangat alami di tahun-tahun 1980-an.

Saat “mama-mama” papalele muslim dari Tulehu berjualan ke desa-desa di Saparua, mereka disambut dengan sebutan “tuang hati jantong”.

Sebutan paling dalam dan menyimpan tebalnya kasih sayang sesama orang Maluku.

Atau saat beliau menggambarkan Maluku sebagai daerah di pesisir pasifik yang ribut, ceria, baterek dan baganggu di unggun-unggun api saat purnama berlayar di lautan cakrawala biru dan cahayanya mengalir dan menurun dengan lembut di buih ombak dan gelombang.

Tulis beliau dengan romantis di buku Carita Orang Basudara (2014) yang dijuduli “Saat Hati Nurani Bicara”.

Beliau juga misalnya dengan tajam mengkritik lapis-lapis kebohongan dunia politik dan hukum. “Di negeri ini setiap saat nama Tuhan selalu diucapkan di pembukaan sidang-sidang pengadikan, di pembukaan dan penutupan seminar, workshop, di warung-warung kopi.

Tapi ketika orang-orang yang terkategori split personality, histeria-histeria kekuasaan, berlagak suci di hadapan Tuhan tapi sebenarnya sedang telanjang.

Baca Juga :   Budayawan Maluku, M Nour Tawainela Tutup Usia

Jutaan orang mengucapkan nama Tuhan, tapi rasionya menghina Tuhan (2014:xxiv). Ucap beliau dalam sebuah prolog di Buku Negara Hukum dan Demokrasi yang ditulis Bang Dayan Pamor (2014).

Selain Pak Nour yang meninggal di Tulehu, pada Juli tahun kemarin, kita juga kehilangan seorang intelektual Maluku yang banyak menulis tentang Banda, Pak Usman Thalib.

Baca Juga :   Budayawan Maluku, M Nour Tawainela Tutup Usia

Setelah sebelumnya dua-tiga tahun lalu, kita kehilangan seorang sejarawan hebat di Hila, Leihitu, Opa Mat Lating. Ketiganya memiliki kemiripan pengetahuan dan kritisisme seputar dunia Maluku dan kebudayaan yang kuat.

Pak Nour adalah seorang intelektual yang energik, dalam dan sederhana. Pak Usman Thalib adalah intelektual akademik yang tenang dan tajam.

Persis juga Opa Lating, budayawan Maluku yang disegani karena jejak arsip dan ingatan-ingatan historis yang kuat. Kekuatan pengetahuan Pak Nur misalnya terbukti saat beliau mencetuskan istilah “lawamena haulala” yang disematkan bagi institusi TNI di Maluku hingga hari ini.

Pak Nour dalam banyak perjumpaan dan diskusi selalu berdiri dengan sederet analisis teoritik yg kuat, hafalan-hafalan sejarah yg dalam, pengkayaan local wisdom sehari-hari yang filosofis dan selalu terjelaskan.

Dalam banyak diskusi dan perjumpaan, Pak Nour selalu dirujuk oleh sejumlah besar akademisi, peneliti dan budayawan sebagai “tuang guru atau maha guru”.

Mereka tidak hanya datang untuk mendengar cerita-cerita historis tentang Maluku, melainkan juga ingin meneguk makna-makna makrifat dari aktifitas dan idiom-idiom Maluku yang kaya dari beliau.

Saya pribadi pernah dua kali berjumpa dalam diskusi yang intens bersama beliau. Pertama di tahun 2015, saat diskusi panel beliau dengan Prof. Aholiab Watloly (Guru Besar Sosiologi FISIP Unpatti) di Intermediate Training HMI.

Baca Juga :   Budayawan Maluku, M Nour Tawainela Tutup Usia

Kedua, saat sosialisai waqaf, haji dan umroh di Balai Diklat Keagamaan Provinsi Maluku. Saat itu saya terpesona dengan kemampuan beliau menjelaskan komunalitas orang Maluku dalam hubungannya dengan zakat di negerinya, Tulehu. Beliau sangat fasih menjelaskan dua hal itu dengan mengutip tesis-tesis Peter L Berger dalam The Pyramid of Sarcrife hingga pikiran-pikiran Ali Syariati tentang Haji.

Pak Nour sangat teguh sebagai seorang intelektual. Beliau juga sangat mendalam sebagai seorang Maluku. Nafas intelektualnya yg panjang telah mengantarkannya mendaki sejumlah peristiwa intelektual di Maluku hingga akhirnya tiba di penghujung hidupnya yg tenang.

Baca Juga :   Budayawan Maluku, M Nour Tawainela Tutup Usia

Beliau lalu berpulang pada dini hari di Tulehu. Negeri yg sedari dulu telah dan akan memeluk tubuhnya erat-erat sebagai seorang anak desa yg cerdas nan sederhana.

Pa Nour telah meninggalkan jejak, cerita dan keping-keping ingatan yang mendalam. Beliau memang meninggalkan sejumlah literatur hasil tangan dan pikiran, namun sebagai intelektual, matinya seorang intelektual adalah redupnya satu lilin pengetahuan, keteladanan dan kebijaksanaan.

Apalagi sekelas Maluku–daerah yg pernah berjaya di masa lampau, kaya secara historis dan sumber daya alamnya–kehilangan intelektual seperti beliau, persis kehilangan satu hingga dua generasi pemikiran.

Innnalillahi wainna ilaihi roji’un.
Berpulanglah (roji’un) dengan tenang Pak Nour tuang hati jantong. (***)

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana FISIPOL Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, dan juga mantan pengurus HMI Cabang Ambon

Berpulangnya Intelektual "Tuang Hati Jantong"

Berita Terkini

Berita Terkait