Guru Besar Unpatti: Mengembalikan Maluku Sebagai Pusat Kejayaan Rempah-Rempah, Produksi Pertanian dan UMKM Harus Ditata

Baca Juga

AMBON,KAMPIUN.CO.ID– Dalam sejarah dunia, Maluku dan Maluku Utara dikenal sebagai pusat rempah-rempah di masa lampau. Komoditas cengkih, pala, dan kopi mengundang bangsa-bangsa Eropa seperti Belanda dan Portugis, untuk datang menjajah di dua daerah ini.

Menyikapi romantisme masa lalu tersebut, Guru Besar Managemen dan Perencanaan Hutan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Prof. Dr Agustinus Kastanya menyebut, untuk mengembalikan kejayaan tersebut, berbagai hal di Maluku harus ditata kembali, termasuk produksi pertanian dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Menurutnya, kebijakan-kebijakan Pemerintah Pusat sudah harus didorong, namun hal paling penting juga, Pemerintah Daerah mesti mengendalikannya dengan baik, karena dari berbagai sektor pertanian, Maluku tergolong lemah.

“Jadi harus ada kekuatan yang dibangun secara bersama, baik ditingkat petani maupun dalam koordinasi pemerintah daerah terkait bantuan-bantuan pertanian seperti bibit dan lain-lain,” kata Kastanya kepada Kampiun.co.id, Selasa kemarin (30/3/2021).

Dia menyebut, dari pembibitan hingga petani harus tertanam dengan baik, dan itu perlu ada pendampingan-pendampingan dari Penyuluh Pertanian. Sehingga secara optimal, bibit-bibit yang diproduksikan tersebut bisa berproduksi dengan baik.

Baca Juga :   Bentengi Laut dan Hutan, EcoNusa Bikin School of Eco Diplomacy

“Saya kira proses-proses itu yang belum optimal, sehingga itu perlu ada dorongan kuat, jika kita ingin mengembalikan kejayaan masa lampau,” ujarnya.

Dia mengatakan, sejak lama pihaknya di Univesrtias Pattimura sudah mendorong UMKM dan para petani di Maluku, agar bisa mengembangkan berbagai hal terkait konsen mereka.

“Kita tidak saja fokus pada satu UMKM atau kelompok pertanian tertentu, tapi menyeluruh. Dari awal juga kita bekerja sama dengan jaringan-jaringan yang ada di luar negeri, seperti di Belanda dan lain-lain, untuk mendorong hasil rempah-rempah di Maluku berkembang pesat,” kata Kastanya.

Dia juga mengaku, tidak muda membangun berbagai jejaring, apalagi sampai ke luar negeri. Makanya, kata dia, mereka membangun diskusi dengan Pemerintah Daerah, maupun berbagai stakholder untuk mempersiapkan berbagai fasilitas atau infrastruktur di Maluku.

Baca Juga :   Pasutri yang Tenggelam di Tanimbar, Satu Diantaranya Meninggal Dunia

Sekarang ini, sambung Kastanya, fasilitas termasuk dokumen ekspor sudah bisa keluar di Ambon. Sebelum ada fasilitas, rempah-rempah atau komoditi seperti pala, cengkeh, kelapa (kopra) dan coklat dikirim ke Jakarta.

“Dengan kondisi seperti ini, saya kira orang akan percaya. Makanya, koordinasi ke petani dan pengepul di berbagai daerah, termasuk di Maluku Utara juga harus intens dilakukan,” katanya.

Dia mengatakan, pihak Universitas, Pemerintah Daerah dan salah satu lembaga di Belanda saat ini sedang membuat sebuah platform inovasi menyangkut pala.

“Rencananya kita akan membuat diskusi internasional yang nanti akan menandatangani salah satu kerjasama mengenai platform pengembangan inovasi pala ini,” katanya.

Jika ini sudah bisa dilakukan, maka peningkatan kualitas ekspor, melalui sertifikat produk harus ditata lebih baik lagi. Kemudian juga harus mendorong komoditi-komoditi yang lain di Maluku.

Baca Juga :   Kapolda dan Gubernur Maluku Ikut Apel Kesiapan Pengamanan Kunjungan Kerja Presiden

“Saya kira kejayaan masa lalu itu akan kembali lagi, kalau ada satu formasi yang baik dan sifatnya konsisten,” katanya mengakhiri. (DBA)

Guru Besar Unpatti: Mengembalikan Maluku Sebagai Pusat Kejayaan Rempah-Rempah, Produksi Pertanian dan UMKM Harus Ditata

Berita Terkini

Ambon Keluar Dari Zona Merah, Satgas: Pasien Sembuh Meningkat

AMBON,KAMPIUN.CO.ID-Kota Ambon, Provinsi Maluku kembali keluar dari zona merah atau risiko penyebaran Covid-19.Ambon kembali ke zona oranye dengan mengantongi...

Berita Terkait